(via msydiana)
Setelah selesai menyantap suapan terakhir ayam bakarku, aku membayar bill tergesa-gesa sambil mengeluarkan rokok dan menyalakannya. Aku berjalan menuju mobil sambil menyesap rokokku dalam-dalam.
Tempat ayam bakar kesukaanku ini memang bukan restoran mewah, hanya sebatas rumah makan pinggir jalan dengan pelanggan dari masyarakat kelas menengah bawah. Setiap malam, rumah makan ini selalu berhasil merogoh kantongku dengan sukarela. Dan merogoh kantong orang-orang lain juga tentunya, karena setiap malam tak pernah absen dengan keramaiannya.
Aku memarkir mobilku cukup jauh, tepatnya di depan gerobak penjual martabak. Kasihan juga, saat melihat bapak penjual martabak itu sumbringah ketika melihat mobilku terparkir didepan gerobaknya. Tak ingin mengecewakannya- juga sekaligus tebusanku untuk membayar sewa parkir- aku membeli martabak spesialnya sebelum ke rumah makan tadi, lalu aku taruh di mobil untuk seseorang dirumah- jika ada.
Rokokku belum habis, aku duduk di trotoar dekat mobilku. “Mas, duduk disini aja mas” kata bapak penjual martabak tadi. “Ga apa-apa pak, disini aja” kataku sambil tertawa, aku juga tidak tahu kenapa harus tertawa.
Duduk sambil merokok menghadap jalan raya ini setidaknya cukup menghiburku setelah seharian bekerja dan melakukan segala rutinitas yang sama setiap hari. Di bagian sini, di tempat aku duduk penerangan hanya berasal dari lampu penjual martabak itu, sehingga aku duduk disini pun mungkin dianggap manusia mungkin bukan. Sedangkan disebrang sana segala macam gerobak memadati trotoar, kehidupan terasa semarak disana, lucu sekali. Mungkin itu juga alasan kenapa penjual martabak di belakangku ini sepi pembeli, semalas itukah orang-orang untuk menyebrang? Hmm tidak, tidak. Yang benar adalah, semalas itukah penjual martabak itu pindah ke sebrang?
Tapi, lampu kota di sebrang sana, yang berada tepat di arah jam 12 ku itu mengerjap-ngerjap seperti orang mengantuk, mungkin rusak, atau mungkin memang mengantuk. Apakah cuma aku yang sadar? Karena daritadi, saat sepasang muda-mudi melintas dibawahnya, tak sedikitpun mereka menengok ke atas untuk sekedar memeriksa ada apa, juga seorang pria tambun sambil menelpon yang melintas sambil tertawa-tawa sama saja. Orang-orang yang sedang bahagia memang sama saja.
Aku menginjak puntung rokok itu sebelum akhirnya pamit pada bapak penjual martabak dan kemudian membuka pintu mobilku. Semerbak wangi martabak memenuhi ruangan, kubuka jendela lebar-lebar sambil melesat.
Radio kunyalakan seperti biasa, bukan untuk didengarkan, hanya saja sepi sekali jika tidak. “when you love someone just be brave to say~” samar-samar terdengar dari radio, aku tersenyum. Memang tidak biasanya aku bermasalah dengan lagu yang diputar di radio seperti ini, namun entah mengapa cuping telingaku memang agak sensitif akhir-akhir ini. Kupindahkan channel dengan lagu konspiratif itu, samar-samar terdengar sebuah diskusi tentang merayu dibawakan dengan serius seolah-olah merayu itu membutuhkan kemampuan khusus.
Aku tersenyum lagi, tidak sabar ingin tahu apalagi rencana Tuhan untuk mendukung semua konspirasi malam ini.
Handphoneku berbunyi, sebuah pesan masuk dari Lena. Aku tersenyum, kemudian samar-samar terdengar lagi “when you love someone just be brave to say~” channel yang berbeda memutarkan lagu yang sama disaat yang hampir bersamaan? Ini kebetulan?
Tapi, ini bukan aku. Aku tidak pernah pada akhirnya harus mengalah pada perasaanku sendiri. Atau mungkin, ini memang saatnya untuk aku menyebrang menuju yang bukan aku? Tuhan sengaja memilihku untuk menjadi seseorang yang menyebrang menuju lampu kota yang mengerjap-ngerjap itu.
Kemudian aku memutar balik mobilku menuju rumah Lena, untuk memenuhi konspirasi yang Tuhan ciptakan malam ini.
Kebetulan, masih ada martabak.



